Tampilkan posting dengan label cerpen. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label cerpen. Tampilkan semua posting

Kerinduan Sang Telaga Bening

|0 komentar
Oleh: Aini Aryani
“Mbak Elvi nggak pulang lagi idul fitri ini? “.
“Iya, Mit. Soalnya materi-materi yang belum disampaikan masih banyak. Apalagi bentar lagi UAS.” paparnya. Kuhembuskan nafas sebal, lalu mencoba hubungi Mas Arya.
“Assalamualaikum… lebaran tahun ini Mas pulang ke Indonesia ya. Kan udah hampir tujuh tahun nggak pulang.”
“Nggak janji, Dek. Tiap akhir Ramadhan aku harus ke Mekah meliput sholat Idul Fitri. Tapi, insya Allah aku usahain deh.” jawabnya. Lagi-lagi aku menghela nafas.
Beginilah kalau punya kakak-kakak super sibuk. Mbak Elvi seorang dosen di Universitas Samratulangi, Manado. Lima tahun lamanya belum pernah pulang. Sedang Mas Arya alumni Institute of Public Education di Victoria yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Maryland menekuni bidang pers dan jurnalistik. Mas Arya patut menjadi kebanggaan keluarga karena berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cumlaude. Sekarang ia benar-benar meraih impiannya menjadi seorang journalist di sebuah media ternama di Perth, Western Australia. Menurutku ia adalah seorang “Workaholic”. Dulu, aku pernah membaca satu kalimat tertulis di tembok kamarnya, “Not to occupy and not to exist are one and the same thing for a man.”
***

Kuperhatikan Bunda yang tengah menikmati sore bersama tiga kucing piaraannya. Kadang beliau mengelus, memangku, bahkan mendongeng, seakan-akan mereka memahami bahasa manusia. Aku mendekat lalu berdehem. Namun sepertinya Bunda terlalu menikmati suasana bersama kucing-kucing mungil itu, hingga kehadiranku sama sekali tak disadari. Akupun beranjak menuju ruang tamu.
Kuamati ruangan ini. Oh…ternyata debu jendela depan sangat tebal. Maklum Bik Minah, pembantu kami sedang pulang kampung. Mataku iseng mengamati kalender.

“Oh iya, Bunda kan ulang tahun tanggal 2 April. Berarti seminggu lagi Bunda ultah dong.” Tiba-tiba satu ide muncul dibenakku. “Ctekk..!!” Kujentikkan jari. Lalu menuju telfon di sudut ruang tamu.
“Assalamualaikum, Mbak inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Nggak apa-apa deh Idul Fitri nggak pulang. Tapi waktu ultah Bunda, Mbak dateng ya? Bunda pasti seneng banget kalo Mbak Elvi dan Mas Arya bisa dateng.” rajukku.
“Mm…Mit, kebetulan minggu depan Mas Ishak ada tugas ke Semarang, jadi kemungkinan Mbak bisa sekalian ke Surabaya.” Aku hampir terlonjak saking girangnya, kemudian mencoba menghubungi Mas Arya, tapi gagal.
“Kok gak nyambung sih…” gumamku. Lalu ponselku berbunyi. Private number.
“Assalamualaikum, Mit. Aku udah dua hari ini di Pakistan untuk meliput berita convocation di IIUI.” paparnya. Pantesan waktu ditelfon tulalit terus.
“Mit, ngomong-ngomong Bunda baik-baik aja kan?” tanyanya.
“Baik aja…Mm..oh ya, Mas inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Mitha pengen bikin kejutan nih. Mas usahain pulang ya, biar Bunda seneng. Nggak apa-apa deh Idul Fitri ini nggak bisa dateng. Tapi waktu Bunda ultah, dateng ya? Pliiizz..!!” rajukku.
"Mmm…bentar, aku lihat schedule dulu,” Kutunggu Mas Arya beberapa menit.
“Rencananya dua minggu lagi aku mau ke Indonesia untuk meliput sengketa Indonesia-Malaysia. Jadi, kemungkinan bisa dateng.” jawabnya. Mataku berbinar.
Segera kurancang rencana selanjutnya. Semoga kami dapat menikmati senyum Bunda lagi. Yah, setelah ayah meninggalkan kami untuk selamanya, Bunda terlihat jarang tersenyum. Amat jarang malah. Bahkan selalu terlihat murung. Hampir seluruh waktu dihabiskannya bersama tiga kucing mungil itu, seakan Bunda selalu ingin di dekat mereka. Bik Minah pernah menelfonku tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan Bunda yang sakit-sakitan karena mogok makan sebab salah satu kucingnya sakit. Tanpa kami sadari, kucing-kucing itu akan membawa satu masalah dalam keluarga kami.
***

Kutata seluruh ruangan serapi mungkin. Korden dan taplak mejapun kuganti dengan warna hijau muda, warna kesukaan Bunda. Setelah merapikan jilbab, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir kedua kakakku. Tapi dugaanku meleset. Yang datang hanyalah kiriman hadiah. Tepat setelah kutanda tangani tanda terimanya, telfon berdering,
“Assalamualaikum. Dek, aku ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa dateng. Tapi tadi aku telfon rekanku disitu untuk mengirim hadiah buat Bunda. Maaf ya, Dek.”
Suara Mas Arya membuat lututku lemas seketika. Kututup gagang telfon dengan gelisah. Lagi-lagi telfon itu berdering. Kuangkat gagang telfon itu tanpa gairah.
“Assalamualaikum. Dek, tadi pagi Mbak mau berangkat kesana, tapi tiba-tiba dapet info kalo besok ada rapat penting di kampus. Jadi, Mbak langsung ke Jakarta untuk terbang ke Sulawesi lagi. Maaf ya, Dek.” Aku hampir menangis mendengar penjelasan Mbak Elvi. Ya Allah, mengapa semuanya terjadi di luar rencana?
Dari kamar Bunda, samar-samar kudengar suara merdu melantunkan kalamNya.
Bunda, maafkan Mitha yang belum berhasil mengembalikan senyum itu.

Kuhempaskan tubuhku di sofa, lemas kusandarkan punggung yang terasa pegal. Mataku bersirobok dengan foto mendiang ayah. Masih segar di ingatanku ketika kami menikmati indahnya senja di suatu sore sambil menikmati teh hangat buatan Bunda,
“Mit, Bunda kalian bagai telaga bening yang menyejukkan, yang selalu mengundang kita untuk duduk di tepinya, merenung dalam bayang air jernihnya, atau membasuh wajah menghilangkan resah, bahkan berenang di dalamnya karena lelah, meski telaga itu berkecipak karenanya, atau keruh…atau kotor…”
***

Bik Minah kembali dari kampung. Akupun bersiap-siap kembali ke Jakarta. Kuketuk pintu kamar Bunda. Tak ada jawaban. Pelan kubuka pintu, ternyata beliau sedang beristirahat. Tak jauh dari tempat tidurnya, kulihat tiga kucing mungil yang juga pulas di atas ranjang empuk. Jadi aku hanya menitip pesan lewat Bik Minah.
Namun, sampai di Jakarta, Bik Minah kembali menelfonku,
“Non Mitha, celaka, Non..celaka…!!” Suaranya terdengar panik.
“Ada apa, Bik?” tanyaku penasaran.
“Anu, Non. Tadi pagi kucing-kucing itu di tabrak mobil waktu bermain di jalan raya…Waduh…ya`opo iki…”suara Bik Minah terdengar panik.
“Terus Bunda gimana, Bik?” tanyaku khawatir.
“Lha itu dia, Non. Setelah melihat tiga kucingnya mati, Ndoro putri nangis ndak berhenti-berhenti, lalu pingsan. Terus, Ndoro selalu ngigo ndak karuan. Waktu sudah sadar, tatapannya kosong terus. Perkataan Bik Minah ndak pernah diperdulikan. Bahkan selalu mengulang-ulang kalimat yang sama. Katanya…” Kata-kata Bik Minah terpotong.
“Kalimat apa, Bik?” Tanyanyaku yang makin penasaran.
”Kata Ndoro putri ‘Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini…’ begitu kalimatnya. Waduh…Bik Minah bingung mau ngapain. Non Mitha pulang ya, Non.” katanya masih dengan suara bergetar.
Segera aku berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Juanda setelah meminta Bik Minah membawa Bunda ke rumah sakit. Jangan-jangan Bunda benar-benar menganggap tiga kucing itu sebagai Mbak Elvi, Mas Arya, dan aku?!
Bunda, mengapa senyum itu semakin menjauh? Mengapa ia terlalu sulit tuk dihadirkan kembali?
***

Bunda tengah terlelap ketika aku tiba. Dari wajah teduh yang kian menua itu, aku bisa melihat gurat kecewa, kesedihan, juga kerinduan mendalam disana. Kubuka diary, lalu perlahan kugoreskan penaku di lembaran-lembaran biru itu;
Bunda…
Senyum itu pergi lagi, semakin jauh, entah dimana ia bersembunyi
Andainya samudera atau rimbun hutan yang sembunyikan ia
Ingin Nanda selami samudera itu
Atau mengoyak ranting-ranting rimbun hutan itu
Meski tangan ini ikut terkoyak karenanya
Bunda…
Masih segar membekas di ingatan ini
Ketika kau ajari kami ‘alif, ba’, ta’ dengan kefashihan lisanmu
Agar kami dapat menyelami lautan hidayahNya
Atau ketika tangisan kami pecah, dirimu terbangun resah
Merelakan matamu tak terpejam demi menghalau gelisah kami
Pun ketika Nanda jatuh dari peraduan dan merengek
Kau raih Nanda ke pelukan kasihmu, seraya meneteskan airmata
Seakan kaulah yang tengah merasakan sakitnya raga
Namun...
Ketika kami beranjak dewasa, dan kau tengah di usia senja
Kaki-kaki mungil kami dulu, kini tak dapat kau elus lagi
Tangan-tangan mungil kami juga tak dapat lagi kau sentuh
Kami sibuk mengejar asa sendiri, larut dalam ego
Tak sadar bahwa ada telaga bening yang tengah merindu
Yang ingin meredam resah, menghilangkan gelegak duka
Telaga bening itu adalah engkau, Bunda
Kini…
Izinkan Nanda mencari kekuatan mahadaya
Agar mampu mempersembahkan senyum untukmu, Bunda…

Kututup diaryku perlahan. Kutahan mataku yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba,
“Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda….” igau Bunda. Mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku panik. Segera kupanggil suster.
Setelah keadaan Bunda mulai membaik, kudekati beliau yang tengah menatap jendela. Tatapannya kosong.
“Bunda, ini Mitha…” bisikku. Tak ada respon. “Bunda, ini Mitha, puteri Bunda.” Ulangku. Ia menangis sesenggukan, tapi tangis itu makin kencang, bahkan meraung…
“Tidak…Mitha juga ditabrak mobil itu bersama Elvi dan Arya… huu… huu.. anak-anak Bunda menyusul ayahnya…huu…” Raungan bunda membuatku kaget. Akhirnya tangisku pun pecah.
“Tidak, Bunda… yang mati itu hanya kucing…bukan anak-anak Bunda…hanya kucing, Bunda.” Aku harus berhasil meyakinkan Bunda. Namun Bunda tetap meraung. Hatiku semakin galau, seiring airmataku yang semakin deras.
“Bunda, ini Mitha, putri Bunda. Kucing-kucing itu cuma hewan. Bunda masih ingat kan waktu dulu Mitha mecahin kaca tetangga, Bunda marah dan ngurung Mitha dalam kamar. Terus, waktu Mitha sakit typus, Bunda seharian nemenin Mitha di kamar, gendongin Mitha setiap ke kamar mandi, nyuapin Mitha setiap makan…masih ingat kan, Bunda…ini Mitha, anak Bunda.” celotehku sambil terus menangis. Tangis Bunda mereda lalu terdiam. Kubiarkan Bunda menenangkan diri. Lama, hingga akhirnya beliau terlelap.

Kutatap mata Bunda lekat. Aku harus berhasil meyakinkan Bunda bahwa aku, Mbak Elvi dan Mas Arya-lah darah dagingnya, bukan kucing-kucing itu. Aku tidak akan membiarkan tiga hewan itu menggantikan tempat kami di singgasana hati Bunda.
Pun aku harus meyakinkan kedua kakakku bahwa Bunda butuh mereka disini saat ini. Juga bahwa hadiah-hadiah yang selalu mereka yakini dapat membahagiakannya, takkan pernah mampu menggantikan kehadiran mereka disisi Bunda. Bagi Bunda mereka terlampau berharga tuk digantikan dengan kebendaan, karena putra putrinya adalah anugerah terindah yang tak terbeli, yang merupakan karunia tebesar dariNya.

Bunda masih terlelap ketika Mbak Elvi dan Mas Arya datang. Mataku berbinar saat melihat Bunda membuka mata bersama kami sampingnya. Seketika itu, kami serentak memeluk wanita terkasih itu…Kini kami disini untuk Bunda…(Nie)
(Persembahan tuk Bunda-ku. Miss U so Much, Mom)

*Tulisan ini menjadi juara II lomba FCPI Awards 2005 dan dimuat oleh Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, tahun 2005

RANI DI ATAS BIS KOTA

|0 komentar
“Senin! Senin! Yup lanjut!” Rani memberikan aba-aba kepada bang sopir bis kopaja 20 jurusan senin- Lebak bulus untuk tancap gas. Gadis tamatan SMA tahun lalu itu sangat piawai bergelayutan di pintu bis kota yang melaju cepat. Rani membuang jauh semua rasa malunya. Ia ingin menunjukkan pada semua “inilah emansipasi wanita!” persamaan hak antara wanita dan pria dalam segala hal bahkan menjadi seorang kenek bus kota sekalipun.
Rani, gadis berkulit putih yang sudah tampak sedikit menghitam karena sinar matahari. Dengan rambut cepak pendek sebatas leher, celana levis belel dengan rantai di saku kanan, baju kaos oblong panjang tangan membuatnya tak jauh berbeda dengan remaja sembilan belasan tahun. Hanya lubang anting di telinga dan dada yang agak sedikit maju ke depan yang membuatnya sedikit berbeda dengan mereka.
Keadaan yang telah memaksanya melakukan profesi barunya ini. Datang dari desa dengan berbekal ijazah SMA untuk menyambung kuliah di jakarta. Pamannya yang menjanjikan akan membiayai uang kuliahnya. Tapi apa hendak dikata, pamannya yang hanya seorang sopir bis angkutan kota tidak mampu berbuat apa-apa. Biaya pendaftaran kuliah cukup berharga untuk membayar kontrakan rumah. “Rani! Kuliahmu kita tunda tahun depan saja yah? Kalau tidak kita bayar kontrakan rumah ini kita akan tinggal di mana.” Begitulah keputusan akhir pamannya yang sangat menyakitkan hati Rani.
Akhirnya dia bertekat untuk tidak menjadi beban siapa saja, tidak juga pamannya. Semua propesi dia jalani hingga akhirnya dia mendapatkan propesi yang sesuai dengan sifatnya sebagai seorang wanita tomboy. Kenek bis kota.
# # #
Seperti biasanya, pagi itu Rani menjadi kenek bis kota pamannya. Memakai topi terbalik dengan gesitnya dia mencari penumpang. Suaranya lantang memecah keramaian terminal senin yang tumpah ruah dengan gelombang pelajar dan pekerja. Matanya tajam mencari calon penumpang di antara kerumunan manusia. Hanya berselang tiga menit, bis kopaja 20 sudah terisi penuh.
“Bis siap berangkat!” Lantang suara Rani memberi aba-aba.Bis kopaja berjalan perlahan keluar terminal menembus barisan manusia. Rani membuka jalan dengan mengayun-ayunkan hantuk kecil di tangannya ke arah barisan pejalan kaki yang hampir menutup semua arus jalan. Setelah melewati kerumunan pejalan kaki, bis kulai tancap gas. Rani pun den gan gesitnya melompat dan bergelayutan di pintu belakang bus kopaja dan sesekali bersuit ke arah calon penumpang yang ngetem di pinggir jalan.
Pak Karyo sang sopir bis yang tidak lain adalah paman Rani merasa sangat terbantu dengan kehadiran Rani sebagai kenek bis yang menjadi tarikannya. Selain penghasilannya penuh karena tidak ada mpotongan, penumpangnya juga semakin bertambah dengan kehadiran Rani sang kenek wanita. Para pelajar dan mahasiswa biasanya rela berdesak-desakan hanya untuk bertemu dengan Rani, cewek tomboy kenek bis kota. Rani memiliki daya tarik tersendiri walaupun tak begitu elok rupa.
Tapi Pak Karyo merasa bersalah telah menelantarkan Rani. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya setiap kali memikirkan nasib Rani keponaknnya itu. Dulu ia berjanji untuk membiayai kuliahnya, setelah Rani ditinggal mati oleh ibunya. Akan tetapi keadaan berubah, bukannya Pak Karyo yang membiayai kuliah Rani tapi Ranilah yang membantu kehidupan Pak Karyo beserta keluarga. Pak Karyo lebih merasa bersalah lagi ketika Rani memutuskan untuk membantu Pak Karyo menjadi kenek di bis kota yang menjadi tarikannya. Pada mulanya Pak Karyo menolak, tapi Rani tetap pada pendiriannya. Rani tak mau menemani istri pak Karyo berjualan sayur di pasar atau menjadi tukang masak di warung tegal buk Mur atau keliling kota menjadi penjual jamu gendong dengan sarung dan kebaya jawa. Tapi Rani lebih memilih menjadi kenek bis kota karena lebih sesuai dengan sifatnya yang kelaki-lakian.
Sesaat Rani tampak menguncang uang recehan yang ada di tangannya ke arah penumpang. Penumpang yang mendengar kerincingan uang receh di tangan Rani segera mengeluarkan uang du ribu rupiah dari saku celananya. Suasana di dalam bis begitu sesak dengan penumpang. Tak perduli laki-laki ataupun perempuan mereka rela berdiri berdesak-desakan agar cepat sampai ketujuan. Keadaan semacam ini membuat Rani sedikit kewalahan menarik ongkos. Dia harus berdesak-desakan di antara penumpang laki-laki dan perempuan yang berdiri rapat. Itulah resiko yang harus Rani jalankan setiap hari dan terkadang harus rela dicolek laki-laki yang jahil.
“Bang, nih ongkosnya buat dua orang!” Salah seorang penumpang laki-laki mencolek Rani dari belakang.
“Eh jangan berani kurang ajar luh ya!” Rani membalikkan badan dengan muka merah padam.
“Maaf Bang! Salah saya apaan, main marah aja.”
“Eh panggil abang lagi ! Gue nih cewek tahu!” Rani sambil menunjukkan jarinya ke dada dengan kesalnya.
Untuk sesaat sang penumpang memandangi rani dengan cermat. Dia tidak percaya kalu kenek yang berdiri di hadapannya adalah seorang perempuan sembilan belasan tahun. Hingga pada akhirnya dia hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala sambil mengucap Astagfirullah.
“Maaf Bang eh Mbak! Saya ngak tahu beneran, suer deh.”Sang penumpang sambil mengulurkan ongkosnya untuk dua orang kepada Rani dengan tatapan keheranan.
Sesaat Rani tampak membolak-balik dan menghitung ulang kumpulan uang ribuan yang diberikan sang penumpang kepadanya. Belumlah hilang marahnya karena dicolek dari belakang oleh laki-laki yang ada di hadapannya, mukanya makin bertambah merah padam begitu melihat ongkos yang diberikan kepadanya kurang dari yang semestinya.
“Mas kurang nih ongkosnya! Kalau mau gratisan mending jalan kaki aja, jangan naik bIs deh.”
“Biasanya mahasiswa kan segitu bang eh mbak.” Laki-laki muda itu menunjuk ke arah uang tiga ribu yang telah berpindah ke tangan Rani kemudian melipat dua tangannya di dada sambil memalingkan muka.
Para penumpang yang berkumpul di tengah bIs beringsut mundur ke belakang setelah melihat gelagat yang tidak baik di wajah Rani yang merah padam serta mengeluarkan aroma kemarahan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala memikirkan jurus untuk menyudutkan penumpang di hadapannya, Rani menarik baju panjang tangannya hingga ke siku menampakkan sedikit kejantanannya walaupu dia seorang wanita. Tampa rasa gentar sedikitpun dengan berkacak pinggang Rani meluncurkan kata-katanya.
“Oh luh mahasiswa yah! Emang ada mahasiswa pakai sendal.” Matanya tajam melirik ke sendal yang dipakai lawan bicaranya. “Luh jangan bohongin gue yeh! Luh kire gue kagak sekolah. Walaupun kenek kayak gini gue juga pernah sekolah en hampir kuliah, paham!” Kata-kata Rani bagaikan mortir yang jatuh dari langit, menghujam dalam-dalam di hati laki-laki yang duduk di hadapanny, apa lagi di tambah tonjokan jari telinjuk Rani ke dadanya bagaikan api yang disiram bensin, makin memanas dan membara.
“Eh neng, kalo ngak percaya nih gue punya kartu mahasiswa!” Penumpang dengan dada bidang yang mengaku mahasiswa itu langsung merogoh isi dompetnya, mencari-cari kartu mahasiswa di antara selip-selip uang kertas ribuan rupiah.
Tapi entah mengapa, Rani yang biasanya sabar menghadapi setiap penumpang, hari itu lebih cepat marah. Melihat gelagat yang yang tidak baik dari penumpangnya, Rani langsung naik pitam. Tangan kirinya langsung mencekal bagian depan kerah baju laki-laki yang ada di depannya sedangkan tangan kananya tergenggang erat bagaikan sebongkah batu yang siap dilemparkan.
“Eh, Apa-apaan nih! Jangan begitu dong caranya. Kita nasli mahasiswa kok, nih kartunya!” Sang mahasiswa yang dicekal kerah bajunya membela diri dengan menunjukkan kartu mahasiswanya yang sudah keabu-abuan. Tapi Kepalan tangan Rani tidak lagi melihat muka lawannya. Sebuah Huk kanan mendarat tepat di perut bagian depan mahasiswa yang malang itu. Kartu mahasiswa sebagai bukti dianggapnya hanya angin lalu.
Satu buah tinjuan sudah cukup membuat mahasiswa itu meringis kesakitan. Mulutnya mengaduh kesakitan. Tampak di ujung matanya air kepedihan. Dia ingin mencurahkan air matanya tapi terhalang rasa malu karena dia seorang pejantan.
Setelah melihat lawannya meringis kesakitan dan tidak melakukan perlawanan, rani hanya bisa berkacak pinggang sebagai tanda kemenangan.
“Duh, Bang Zulham! Makanya kasih aja. Seberapa sih harganya uang seribu. Seribu aja kok ditahan-tahan begini jadinya deh.”
Seorang wanita berjilbab yang ternyata adik perempuan laki-laki korban keganasan Rani yang duduk bersebelahan langsung mengeluarkan uang seribu rupiah dan tissu dari tas kecilnya. Uang seribu rupiah langsung dihulurkan ke tangan Rani yang masih panas.”Nih neng kurangnya, maafin abang gue yah?” Sementara tissu untuk mengusap keringat dingin yang mengucur deras di kening abangnya.
Para penumpang lain yang menyaksikan kejadian itu sebagian menjerit setengah histeris sambil menutup muka dan sebagian lagi berdecak kagum karena jarang-jarang seorang wanita menghajar pria.
# # #
Malam begitu pekat. Hening . Hanya dua tiga kendaraan yang lalu lalang di jalan yang sedikit lengang itu. Lampu jalan yang menyala redup seperti mata serigala, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsa. Angin dingin bertiup seolah mengabarkan kepada semesta tentang rahasia malam yang penuh makar dan kejahatan.
Di salah satu sisi jalan, di tengaqh kegelepan, Nadia tampak sedikit tergopoh-gopoh mempercepat langkahnya, meninggalkan toko serba ada di ujung jalan tempat dia membeli telor untuk sarapan pagi besok sebelum berangkat kuliah. Nadia harus masak sendiri karena kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar kota sedangkan pembantunyabaru satu minggu berhenti bekerja karena sudah merasa punya modal cukup untuk buka usaha kecil-kecilan di desa.
Malam baru merambat pukul sembilan, tapi suasana malam sungguh mencekam. Nadia tidak ingin mencium kedatangan kejahatan malam. Ekor matanya selalu sigap mengamati sekeliling. Sesekali hatinya mendesah menyesalkan sikap abangnya yang tidak mau menemaninya ke toko serba ada untuk membeli telor. Abang Zulham lebih memilih menemani bukunya dari pada memperhatikan keselamatan adiknya semata wayang.
Dibuangnya semua rasa takut. Ingatannya hanya terfokus pada Allah yang menciptakan malam dan memegang segala rahasianya. Dulu dia memang seorang penakut tapi setelah banyak belajar agama sidak ada lagi yang ditakutinya kecuali Allah.
Nadia mempercepat irama langkahnya. Sekarang hatinya mulai tenang, gelisahnyapun ikut terbang. Dari kejauhan tampak bayangan rumahnya yang megah melambaikan tangan memberi semangat pada Nadiauntuk terus berjalan. Hatinya seakan berhamburan diikuti langkah kaki yang setengah berlari menuju rumahnya yang berdiri anggun tepat di ujung jalan.
Tetapi kegembiraannya terusik karena dikejutkan oleh sebuah bis kopaja jurusan Senin-Lebak Bulus yang berjalan begitu dekat dengan trotoar. Nadia sedikit terpekik karena hampir diserempet bis yang lewat. Sebentar dia mengelus dada bersyukur tidak terserempet. Belum sempat dia menarik nafasnya yang kedua dia harus terpekik lagi dengan sebuah tubuh yang terpental dari dalam bis yang melaju cepat. Tubuh itu untuk beberapa saat menggelinding di atas aspal jalan beberapa kali lalu berhenti sekitar sepuluh langkah dari tempat Nadia berdiri terpaku.
Sesaat setelah itu terdengar aungan rem bus kopaja yang berhenti mendada. Di dalam nya terdapat beberapa pemuda tanggung yang tampak begitu gelisah. Kemudian salah satu di antara mereka memerintahkan sopir untuk tancap gas seolah tak terjadi apa-apa.
“Ya Allah, pembunuhan!” Lirih suara Nadia setengah tidak percaya. Dia berusaha keras melihat plat nomor bis kopaja yang sedang tancap gas di hadapannya. Samar-samar yang dilihatnya hanya palang persegi empat tampa tahu seri dan nomornya. Asap hitam yang keluar dari kenalpot membuat bayangan bis itu semakin pudar ditelan kegelapan malam. Tinggal aungannya saja yang sedikit-sedikit terbawa angin malam, menyisakan tanda tanya dan kengerian di hati Nadia.
Tubuh malang yang terlempar dari dalam bis kopaja terbaring tampa gerak. Dalam kebingungannya Nadia berusaha tenang sambil mengembalikan detak jantungnya yang hampir lepas dan menyusun keberaniannya yang sedikit luntur. Perlahan-lahan Nadia mendekat. Samar-samar seakan-akan dia pernah melihat wajah bersimbah darah yang ada di hadapannya.
“Astagfirullah! Ini kan kenek wanita yang tadi pagi menghajar bang Zulham.” Batinnya setengah tidak percaya.
Nadia berteriak meminta pertolongan sambil menoleh ke kanan-kiri, kalau saja ada pejalan kaki yang berani keluar rumah sepertinya lewat atau pengendara jaln yang iseng-iseng mencari udara malam. Tapi suasana tetap mencekam. Tak ada jawaban. Sesosok tubuh wanita sembilan belasan tahun yang terkapar di hadapannya diam seribu kata menimbulkan aroma kematian. Darah segar terus menganak sungai dari kepalanya yang mungkin terbentur trotoar saat dia terjatuh dari bus kopaja. Nadia hanya bisa berdoa lalu berhamburan ke arah rumahnya yang turut berduka untuk mencari pertolongan.
# # #
Rani merasakan dirinya telah terdampar jauh dari dunia. Terbawa ombak terdampar di pulau kegelapan. Sunyi senyap. Gelap menyelimuti. Sendiri tampa ada yang menemani. Rani tak tahu ada di mana, apakah di sorga atau di neraka. Tapi dia yakin bahwa dia sedang berada di salah satu sudut neraka mengingat selama hidup dia jarang melaksanakan sholat lima waktu. Diapun tidak pernah mentaati perintah almarhum ibunya untuk menutup aurat sebagai kewajiban seorang muslimah.
Kegelapan semakin lama-semakin mencekam. Kesedihan di hati Rani tak lagi tertahankan, membludak memenuhi seluruh sekat jiwanya. Tangisannya tak lagi terbendung. Mulutnya yang mungil hanya bisa meratapi takdirmengapa dia tidak mendengarkan nasehat ibunya yang tulus untuk bersikap seperti layaknya seorang wanita, menjaga kehormatan, menjauhi pergaulan bebas dan selalu menjalankan perintah agama.
Kesedihan semakin menjadi ketika bayang-bayang wajah ibunya yang arif dan bijaksana seakan berputar-putar di atas kepalanya. “Ibu, ibu! Maafkan Rani ibu? Rani telah durhaka kepada ibu. Rani patuh. Rani bersalah pada ibu. ibu maafkan Rani?” Dengan kedua tangan menutupi wajah Rani terus meratapi segala perbuatannya. Dia malu dan merasa betapa hina dirinya di hadapan ibunya apalagi di hadapan tuhan Sang Pencipta. Rani ingin keluar dari kegelapan itu.
Nadia yang selama ini selalu setia di samping ranjang rani terbangun dari pulasnya endengar rintihan Rani yang sangat menyayat hati. Walaupun berada di hadapannya, Rani seolah tak tergapai oleh tangan. Suaranya terdengar sangat jauh, jauh di alam bawah sadar. Rani sedang bergejolak di alamnya yang terasa sangat asing. Merintih kesakitan, mengungkapkan rasa penyesalan yang begitu mendalam sambil sekali-kali memanggil ibunya dan memohon ampunan.
Tak terasa kebeningan mata Nadia tumpah membasahi pipinya yang putih. Walaupun tak tahu dosa apa yang telah dilakukan wanita yang tak pernah dikenalnya itu terhadap ibunya, Nadia merasakan penyesalan yang begitu mendalam terhadap apa yang telah dia lakukan terhadap ibunya.
“Ya Allah! Berilah taubatmu pada wanita malang ini!” Batin Nadia meminta sambil mengusap air mata yang tak terasa jatuh berhamburan di pipinya.
Tiba-tiba Rani bangun dari komanya. Matanya yang basah tak mampu menutupi kesedihannya. Kesedihan yang dialaminya ketika mengembara di alam bawah sadar. Nafasnya turun naik dengan cepat seakan barusan bertema malaikat pencabut nyawa. Lalu perlahan dia berusaha mengatur nafas dan melihat kesekelilingnya dengan hanya mengerlingkan mata.
Melihat Rani yang sudah sadar dari koma, nadia merasa sangat gembira, lalu menjulurkan wajah ke wajah Rani yang penuh dengan perban. “Alhamdulillah! Kamu sudar sadar dek. Allah masih sayang padamu.’ Nadia mencoba menghibur Rani yang belum sadar apa yang telah terjadi pada dirinya.
Rani merasa seperti kedatangan seorang bidadari sorga begitu melihat Nadia yang berpakaian rapi dengan jilbab panjang mengembang berdiri di sampingnya. Dia langsung terbayangdengan mimpi yang baru saja di alaminya. Di harus meninggalkan semua kebiasaan buruknya, menutup aurat dan melaksanakan kewajiban agama. “Rani tak mau jadi anak durhaka Mbak.” Dengan suara serak sedikit terisak Rani mencurahkan semua gelombang perasaan di dadanya kepada Nadia yang diyakininya sebagai wanita baik-baik calon penghuni sorga . wanita yang akan menuntunnya kepada hidayah.
“Iya dek! Kamu anak baik, kamu bukan anak durhaka.” Nadia menganggukkan kepalanya mengiakan keinginan Rani sambil sedikit menggigit bibir atasnya yang tersiram air mata.
Hari semakin bertambah. Rani semakin dekat dengan Nadia. Setelah melalui perkenalan dan beberapa percakapan Rani semakin tertarik dengan sosok Nadia yang berpakaian rapi, berjilbab lebar hingga tidak menyisakan kesempatan sedikitpun bagi lekuk-lekuk tubuhnya untuk mengambang ke permukaan.
Nadia seolah menjadi psikiater kagetan yang selalu sabar menjawab dan memberi pemecahan terhadap unek-unek dan persoalan yang selama ini Rani hadapi. Mulai dari pekerjaannya sebagai seorang kenek bis kota, masalah keuangan yang menuntutnya harus rela meninggalkan keinginannya untuk kuliah, kesedihannya karena merasa sangat bersalah tidak patuh terhadap nasehat almarhum ibunya sampai keingininnya untuk berjilbab seperti Nadia dan meninggalkan propesinya sebagai kenek bis kota.
Alangkah bahagianya hati Nadia saat mendengar keinginan Rani untuk memakai jilbab seperti dirinya. Hanya dengan membantu merawat Rani, Nadia diberikan kesempatan untuk membawanya kepada hidayah.Nadia sangat senang mempunyai adik seperti Rani walaupun seorang kenek bis kota yang terkenal keras dan urakan, Rani masih menyimpan selaksa kelembutan di hatinya.Rani tidak sejelek perkiraannya ketika dia menghajar bang Zulham di bis kota tampa ampun karena ongkosnya kurang seribu perak.
Pada hari kedelapan Rani menjalani pesakitannya di atas ranjang rumah sakit, Nadia datang bersama kedua orang tuanya yang baru pulang dari luar kota bersama bang Zulham yang selalu setia menjaga rumah ketia Nadia menjaga rani di rumah sakit.mereka sangat senang melihat Rani yang sudah baikan walaupun kepalanya masih dilingkari perban. Rani sudah bisa bercanda seperti dulu lagi, ketika dia menjadi kenek bus kota yang penuh dengan canda tawa. Keluarga Nadia akan senang menerimanya sebagai keluarga, menemani Nadia yang sebentar lagi akan sering sendiri di rumah karena abangnya pun akan kerja di luar daerah.
Bang Zulham yang yang mengambil duduk agak jauh dari ranjang melihat Rani penuh penasaran. Dia seakan-akan pernah melihat wajah Rani yang masih dililit perban. Dia berusaha keras mengingat dimana terakhir kali dia berjumpa dengan sosok wanita yang ada di hadapannya. Tapi entah di mana, dia lupa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak berketombean.
# # #
Sekarang Nadia sudah tinggal bersama keluarga Nadia di rumahnya yang mewah. Nadia langsung yang memintanya untuk tinggal di rumahnya. Segala urusan keuangan ditanggung oleh keluarga nadia yang baik termasuk biaya kuliahnya yang akan dia tempuh pada ajaran baru ini.
Pak Karyo yang selama seminggu lebih uring-uringan mencari kabar Rani yang hilang entah kemana baru diberi tahu tentang keadaan rani setelah Rani benar-benar sembuh dari luka-lukanya. Mulanya pak karyo sangat marah mendengar bahwa Rani menjadi korban kenakalan teman-teman laki-lakinya sesama bus kota yang pada malam itu sengaja kumpul untuk menjahilinya. Tapi rani tidak ingin mengungkit masa lalunya yang suram. Yang berlau biarlah berlalu. Semua yang terjadi bukanlah kesalahan mereka semata tetapi juga kesalahan Rani yang salah dalam bergaul. Akhirnya paman Karyo mampu menerima keputusan Rani dengan lapang dada.
# # #
Tahun ajaran baru hampir tiba. Rani sibuk mempersiapkan syarat-syarat untuk masuk kuliah.
Pagi ini rencananya Rani beserta Nadia dan bang Zulham akan berangkat bersama-sama mengantarkan Rani untuk mendaftar kuliah. Selepas makan pagi mereka langsung cabut menuju tempat pendaftaranmahasiswa baru. Bang Zulham dan Nadia sangat perhatian dengan Rani Cewek yang sudah memakai jilbab tapi masih centil dan lincah saja gayanya.
“Bang Zul! Kita ngak naik mobil pribadi?” Tanya Rani sebelum meninggalkan rumah. “Kan mubazir ada mobil sendiri kok naik kendaraan umum.” Sambil menunjuk kearah mobil pribadi yang diparkir di garasi rumah.
“Minyaknya kagak ada.” Jawab bang Zulham sekenanya.
“Ngak! Bang Zulhamnya yang kagak bisa nyopir.” Nadia langsung menimpali. “Semenjak sopir kita berhenti dua minggu yanglalu tuh mobil udah kayak besi buruk,ngak pernah dipakai lagiRin.”
“Eh loh buka buka kartu aja.” Bang Zulham agak memerah mukanya.
“Ntar besok-besok kalo ngak ada sopir baru, biar Rani aja yang nyopir bang, Rani bisa.” Rani terus terang dengan penuh percaya diri.
“Kamu bisa nyopir dari mana Rin?” Tanya Bang Zulham sedikit tidak percaya. “Kamu mantan sopir yah? Atau…” Bang Zulham berusaha keras berfikir.
“Ah ngak! Maksudnya Rani bisa belajar Bang.”
“Ooo gitu! Kalo gitu Abang juga bisa.” Bang Zulham tak mau kalah.
Sesampai di pinggir jalan ketiga anak manusia itu menunggu lama sampai ada bus kota yang sepi dari penumpang. Tapi pagi itu seluruh isi kota seperti bergolak. Seluruh manusia tumpah ruah ke jalan bagaikan air bah. Tidak ada angkutan umum yang sepi dari penumpang.
“Bang Zul! Sampai kapan kita berdiri disini. Dari tadi sudah berapa mobil yang lewat, kagak bakalan ada yang kosong bang. Berdiri aja bang, sekalian olah raga pagi.” Rani membujuk Bang Zulham yang tampak gusar menunggu lama. Akhirnya dengan terpaksa mereka naik ke dalam bis yang penuh dengan penumpang. Mereka berdiri di tengah kerumaunan penumpang lainnya. Rani lebih memilih berdiri dipinggir pintu supaya lebih leluasa menghirup udara pagi walaupun telah terpolusi. Rani teringat dengan profesinya dulu sebagai kenek bis kota.
“Yoh, Bulus, Bulus,Buluuus!” teriak Rani dengan suara lantang kepada para pejalan kaki yang ngetem di pinggir jalan.
“Nad! Abang baru ingat, dia kenek wanita yang dulu menghajar abangkan?” Bang Zulham seperti baru menemukan lembaran filenya yang hilang.
“Ah, masak si Bang? Ranikan orangnya memang suka aneh.” Nadia menundukkan pandanagn dari mata abangnya yang penuh keseriusan meminta kejujuran nadia. “Wah, ketahuan juga aslinya si Rani.” Bisik Nadia dalam hati.

Istri Solehah

|0 komentar

Tersebutlah seorang istri yang shalehah di zaman Rasulullah SAW. Dia sangat taat kepada suami dan sangat pula cinta kepadanya. Pada suatu malam sang suami meminta kepada istrinya untuk membuatkan minuman hangat untuk menghangatkan diri. Namun karena air belum masak maka sang suami harus menunggu hingga air yang dimasak benar-benar matang.

Karena kondisi badang yang sudah mengantuk akhirnya sang suami tertidur di atas kursi makan sambil bersender di atas meja.

Tak lama kemudian sang istri membawa minuman yang telah diseduh dari dapur. Namun dia mendapatkan sang suami sudah tertidur pulas. Karena ketaatannya kepada suami akhirnya sang istri terus berdiri di samping sang suami sambil memegang minuman yang telah disediakannya untuk suami tercinta hingga fajar hampir menjelang.

Sebelum fajar sang suami terbangun dari pulasnya. Dia terkejut melihat sang istri berdiri di sampingnya sambil memegang gelas minuman yang sudah dingin. Sang suami bertanya, “Sejak kapan kau berdiri disini istriku?”

“Sejak tadi malam.” Jawab sang istri dengan nada pelan. “Aku takut menggangu bila aku membangunkannku istirahatmu akan terganggu, dan aku juga takut jika engkau bangun kau tidak mendapatkan minuman yang kamu pinta. Karena itulah aku berdiri disini, kalau-kalau saja kau bangun di tengah malam, namun kau baru bangun sekarang.

Sang suami sangat terharu mendengar penuturan yang lembut dari istrinya. Di dalam hati dia sangat bersyukur kepada Allah telah dikaruniai istri yang sangat taat kepada suami lagi baik budinya. “Istriku, pintalah apa saja dariku, aku akan mengabulkannya. ini adalah hadiah dariku atas kebaikan hatimu kepadaku.”

“Baiklah suamiku, karena engkau telah berjanji akan mengabulkan apa saja yang aku pinta, maka aku akan meminta satu permintaan saja kepadamu.”

“Apa itu istriku, sebutkanlah!” pinta sang suami tidak sabaran.

“Ceraikan aku sekarang juga!” Pinta sang istri tegas.

Bagai disambar petir di siang bolong, sang suami tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Hatinya sangat kecewa.