Secara bahasa sihir السِّحْرُ bermakna مَا خَفِيَ وَلَطُفَ سَبَبُهُ atau sesuatu yang tersembunyi dan tidak tampak sebabnya. Dari lafaz ini dinamakan akhir malam dengan kata السَّحَرُ. Dari lafaz sihir ini juga diambil kata السَّحُورُ ‘As Sahur’ untuk sesuatu yang dimakan pada akhir malam, karena kondisi yang gelap pada saat itu. Dan setiap sesuatu yang tidak tampak dinamakan dengan Sahar ‘سَحَرٌ’. Adapun secara syariat, sihir terbagi menjadi dua macam: 1. عُقَدٌ وَ رُقَى Simpul tali dan mantera-mantera Yaitu jimat-jimat dan mantera-mantera yang digunakan oleh seorang penyihir untuk mencelakai orang lain dengan menggunakan setan. Walaupun demikian seorang penyihir tidak bisa memberikan bahaya sedikitpun kepada orang yang menjadi sasaran sihirnya kecuali atas izin Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
dan mereka itu (ahli sihir) tidak bias memberikan mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. (QS. Al Baqoroh: 102). 2. أَدْوِيَةٌ وَ عَقَاقِيْرُ Obat-obatan dan ramuan Yaitu obat-obatan dan ramuan-ramuan yang berpengaruh pada tubuh orang yang terkena sihir, sehingga membuat badannya lemah sedikit demi sedikit. Sihir semacam ini juga bisa mempengaruhi pikiran, sehingga orang yang terkena sihir ini menjadi seperti orang setengah gila atau gila benaran. Juga dapat mempengaruhi keinginan dan kecenderungannya, sehingga orang yang terkena sihir semacam ini berpaling dari sesuatu atau cenderung pada sesuatu yang lain. Seperti membuat seorang suami bersikap lembut terhadap suaminya, atau jatuh cinta pada wanita lain. Lalu laki-laki tersebut dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan orang yang menyihirnya sebagaimana layaknya seekor binatang ternak digiring oleh pengembalanya.
Hukum sihir: Hukum sihir dapat dibagi menjadi dua macam: 1. Syirik Apabila perbuatan sihir itu dilakukan dengan perantara syetan. Yaitu dengan menyembah syetan atau mendekatkan diri kepadanya, sehingga syetan memberikan dia kekuatan dan kemampuan untuk mencelakai orang lain yang akan disihir. Maka hukum orang yang melakukan sihir semacam ini adalah kafir. Dia keluar dari agama islam. Karena perbuatan sihir yang dilakukannya didapatkan dari perbuatan syiriknya kepada Allah, yaitu dengan menjadi budak syetan dan menjadi pengikutnya. Hal ini berdasarkan dalil Al Quran:
Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat (QS: Al Baqoroh: 102) Artinya orang yang melakukan perbuatan sihir nantinya mereka tidak akan mendapatkan bagian apapun di akhirat. Dan setiap orang yang tidak mendapatkan bagian apapun di akhirat berarti amalannya selama di dunia telah musnah dan sia-sia. Dan musnahnya amalan tersebut bisa secara keseluruhan, sehingga dia menjadi kafir. Atau musnah sebagiannya saja, sehingga dia tergolong menjadi orang-orang yang fasik. Secara umum orang yang melakukan tindakan sihir dijatuhi hukuman mati. Pada jenis syirik ini maka penyihir yang dibunuh itu mati dalam keadaan murtad, kecuali bila dia bertobat sebelum dihukum, maka dia mati dalam keadaan beriman. Hukuman ini didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Jundab secara mauquf:
Dari Jundab, bahwa hukuman terhadap seorang penyihir adalah dibunuh dengan pedang (HR. At Tirmizi) Sebagaimana Umar bin Khatab juga memerintahkan untuk menjatuhi hukuman mati terhadap para penyihir:
Dari Bajalah bin Ubadah berkata: “Umar memerintahkan untuk membunuh para penyihir baik laki-laki maupun perempuan”. Bajalah berkata: “lalu kami hukum mati tiga orang penyihir”. (HR. Bukhori) Dan Malik juga meriwayatkan bahwa Hafsoh istri Rasulallah juga pernah memerintahkan untuk menjatuhi hukuman mati kepada budak perempuan yang menyihirnya.
2. Dosa besar Apabila sihir yang dilakukan menggunakan mantera-mantera dan ramuan-ramuan, maka tidak menyebabkan dia kafir, tapi orang yang melakukan sihir ini telah melakukan dosa besar dan berbuat zolim terhadap Allah SWT. Secara hukum penyihir semacam ini juga dikenai hukuman mati. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan bahaya dan mencegah kerusakan yang disebabkannya pada orang lain.
Asma’ (nama-nama) dan Sifat-sifat Allah SWT Dari tiga macam pembagian tauhid yang dirumuskan oleh para ulama yang diambil dari dalil-dalil yang benar adalah tauhid Asma’ dan Sifat. Dalam memahami tauhid ini tidak sedikit kelompok-kelompok atau firqoh-firqoh islamiyah yang salah dalam memahaminya sehingga menimbulkan kesesatan. Maka pada bab ini kita akan membahas dengan ringkas tentang permasalahan yang berkaitan dengan dasar-dasar dalam memahami Asma’ dan Sifat-sifat Allah SWT. 1. Manhaj (metode) yang benar dalam memahami Nama-nama dan Sifat-sifat Allah SWT. Agar seorang mukmin terhindar dari kesalahan yang dialami oleh beberapa firqoh islamiyah dalam memahami tauhid asma’ dan sifat, maka setiap individu wajib untuk mengikuti cara yang digunakan oleh para salaf atau orang-orang yang terdahulu dari umat ini dalam memahami asma-dan sifat Allah. Di antara cara atau metode yang meraka gunakan adalah: a. Tidak melakukan penyimpangan (عدم التحريف) At Tahriif (penyimpangan) secara etimologi memiliki arti At Tabdiil (التبديل),menggantikan dan At Taghyiir (التغيير),merubah. Secara istilah At Tahriif berarti merobah lafaz Nama-nama Allah yang Indah dan Sifat-sifatNya yang tinggi atau merobah makna-maknanya. At Tahriif dapat dibagi menjadi dua: Pertama: Tahriif Al Lafzi (تحريف اللفظ) yaitu dengan menambahkan dan mengurangi atau merobah syakal (harokat) lafaz. Seperti perkataan kelompok Jahmiyyah dalam masalah istiwa’ (استواء) yang mengartikannya dengan istawla (استولى). Begitu juga dengan perkataan orang-orang yang membuat-buat sesuatu yang mengada-ada dalam agama, dengan memberikan harakat nasb (fathah) pada lafazl Al jalaalah (nama Allah) dalam firmanNya: (وكلم الله موسى تكليما). Ada juga yang memberikan harokat kasroh pada lafaz ‘ربك’ pada ayat: (وجاء ربك والملك صفا صفا) dengan mentakdirkan kata amrun (أمر) sebelumnya sehingga maknanya berubah menjadi (وجاء أمر ربك) artinya dan telah datang perintah Tuhanmu. Kedua: Tahriif Al Ma’na (تحريف المعنى) yaitu dengan membiarkan lafaz nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana bentuk aslinya seperti yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah tetapi yang dirobah hanyalah maknanya. Seperti penafsiran beberapa golongan ahli bid’ah terhadap lafaz Al Ghodob (الغضب), marah, ditafsirkan sebagai (إرادة الانتقام), kehendak untuk membalas dendam. Lafaz Ar Rohmah (الرحمة) kasih saying, ditafsirkan sebagai (إرادة الإنعام), kehendak untuk memberikan kenikmatan. Lafaz Al Yad (اليد), tangan, ditafsirkan sebagai (االنعمة) kenikmatan dan (القدرة), kemampuan. b. Tidak mentelantarkan (عدم التعطيل) At Ta’tiil (التعطيل), mentelantarkan, berasal dari kata Al ‘atol (العطل), menganggur, yang berarti Al Khulu (الخلو), sepi, Al Faraagh (الفراغ), kosong, dan At Tark (الترك), meninggalkan. Sedangkan arti At Ta’tiil secara terminologi/ istilah adalah meniadakan sifat-sifat ketuhanan dan merampasnya dari Allah. Perbedaan antara At Ta’tiil dengan At Tahriif adalah; bahwa At Ta’tiil merupakan bentuk tindakan menghilangkan makna yang benar yang telah disampaikan di dalam Al Qur’an dan sunnah sedangkan At Tahriif merupakan tindakan penafsirkan nas-nas atau dalil-dalil yang berkaitan dengan Asma’ dan Sifat-sifat Allah dengan makna yang salah. c. Tidak melakukan kondisioning/ penyesuaian (عدم التكييف) Penyesuaian yang dimaksud adalah menentukan bentuk sifat. seperti kalimat kayyafa As Syai’a (كيف الشيء) artinya memberikan bentuk yang dapat dimengerti kepada suatu benda. Dan ada juga yang mengatakan artinya adalah menanyakan dengan kata ‘bagaimana’. d. Tidak melakukan permisalan (عدم التمثيل) Permisalan artinya penyerupaan. Permisalan ini terbagi menjadi dua: Pertama: Menyerupakan makhluq dengan kholiq. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al Masih bin Maryam (Nabi Isa AS) dengan Allah, orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah dan orang-orang musyrik yang menyamakan berhala-berhala mereka dengan Allah. Kedua: Menyerupakan Kholiq dengan makhluq. Seperti orang yang berkata, “bahwa wajah Allah seperti wajah makhluqNya, tanganNya seperti tangan makhluq” dan lain sebagainya.
Karena syadat adalah bagian yang fundamen dalam aqidah seorang muslim, dan karena syahadat ini memiliki nilai-nilai dan pengaruh yang besar dalam kehidupan serta pentingnya aqidah yang jelas dalam akal dan hati sehingga dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mengenal lebih dalam makna syahadat serta rukun-rukun dan syarat-syaratnya.
Makna syahadat ‘La Ilaaha Illallaah’ ( لا إله إلا الله) adalah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah SWT.
Adapun rukun syahadat ada dua:
1.Nafyun artinya meniadakan.
2.Itsbaatun artinya menetapkan.
Kalimat ( لا إله إلا الله) di dalam syahadat yang berarti ‘tidak ada tuhan’ merupakan bentuk nafyun atau peniadaan dan pengingkaran bagi seluruh sesembahan selain Allah. Sedangkan kalimat ( إلا الله ) yang berarti ‘kecuali Alla’ merupakan bentuk penetapan ibadah bagi Allah semata, tidak ada sekutu baginya dalam ibadah, sebagaimana juga tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaanNya.
Adapun syarat-syarat syahadat ( لا إله إلا الله) yang merupakan tolak ukur kesempurnaan tauhid seseorang dan belum sempurna tauhidnya kecuali dengan syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.Ilmu yang meniadakan kebodohan ( العلم المنافي للجهل)
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu. (QS: Muhammad: 19).
Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafa’at (pertolongan di akhirat); kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini. (QS: Az-Zukhruf: 86).
Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda:
عن عثمان بن عفان قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من مات وهو يعلم أن لا إله إلا الله دخل الجنة
Artinya:
Dari Utsman bin Affan, dia berkata: Rasulallah SAW bersabda, “Siapa saja yang mati dan dia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka dia masuk sorga.
Dan dari Abi Sa’id Al Khudri RA beliau meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:
قال موسى يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال: يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرض السبع في كفة ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن (لا إله إلا الله) رواه ابن حبان والحاكم في صحيحه)
Artinya:
Musa berkata,”Ya Tuhanku! Ajarilah aku sesuatu yang dengannya aku bias mengingatmu dan berdoa kepadaMu.” Allah berkata, “Hai Musa! Sekiranya tujuh lapis langit dan ditempati selain aku, dan tujuh lapis bumi berada di sebuah piringan timbangan. Kemudian (kalimat) La Ilaaha Illallaah berada di piringan timbangan yang lainnya, maka pastilah piringan timbangan tersebut akan miring kepada kalimat ‘La Ilaaha Illallaah’. (HR. Ibnu Hibban dan Hakim).
2.Keyakinan yang meniadakan keragu-raguan ( اليقين المنافي للشك)
Hendaknya seorang yang mengucapkan kalimat ‘La Ilaaha Illallaah’ ( لا إله إلا الله ) dengan penuh keyakinan akan kandungan kalimat ini. Tidak ragu-ragu dan bimbang. Allah SWT berfirman:
Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kami belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (islam); karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan rasulNya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah meraka yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudia mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS: Al-Hujurat: 14-15).
Dalam ayat ini Allah SWT memberikan syarat bagi kejujuran iman orang-orang Arab Badui tersebut, yaitu agar mereka tidak ragu-ragu dan tidak bimbang dalam keimanan kepada Allah SWT.
Dan diriwayatkan dalam hadis yang shahih:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرسل أبا هريرة بنعليه قائلا له: (من لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة
Artinya: bahwa Rasulallah SAW mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sendalnya seraya berkata kepadanya, “Siapa saja yang engkau temui di balik dinding ini, dia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan hatinya yakin dengan kalimat itu, maka berilah dia kabar gembira akan sorga.
وعن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، وأن الجنة حق، والنار حق، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل (أخرجه البخاري ومسلم)
Artinnya:
Dari Ubadah bin Shomit RA, dia berkata: Rasulallah SAW bersabda, “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusanNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, dan merupakan ruh (yang ditiup) dariNya. Dan Bahwasanya sorga adalah sesuatu yang benar, dan neraka adalah benar. Allah masukkan dia ke dalam sorga berdasarkan amalannya. (HR. Bukhori dan Muslim).
3.Ikhlas yang meniadakan perbuatan syirik ( الإخلاص المنافي للشرك)
Ikhlas adalah membersihkan amalan dengan niat yang bersih dari seluruh perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil.
Padahal merka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas mentaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar), (QS: Al-Baiyyinah: 5).
Artinya:
Maka barang siapa yang mengharap pertemuan dengan TuhanNya hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS: Al-Kahfi: 110).
Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang berkata ‘La Ilaaha Illallaah’ tiada Tuhan selain Allah, secara ikhlas dari hati dan jiwanya.
Di dalam hadis yang shahih juga Rasulallah SAW pernah bersabda:
Artinya:
Dari Utsman bin Malik RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi neraka orang yang berkata, ‘La Ilaaha Illallaah’ (tidak ada Tuhan selain Allah).
4.Kejujuran yang meniadakan kebohongan ( الصدق المنافي للكذب)
Allah SWT berfirman:
Artinya:
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS: Al-Baqoroh: 8-9).
Artinya:
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). (QS: Al-Ahzab:23).
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار
Artinya:
Dari Mu’az bin Jabal RA, dari Nabi SAW dia berkata, “Tidak lah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, dengan segenap kejujuran dari hatinya kecuali Allah haramkan dirinya dari neraka.
5.Cinta yang meniadakan kemarahan dan kebencian
Allah SWT berfirman:
Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS: Al Baqoroh: 165).
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS: Al Maidah: 54).
Dan di dalam hadis Rasulallah bersabda:
ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار (متفق عليه)
Artinya:
Ada tiga hal yang apabila ada pada seseorang dengannya dia akan merasakan manisnya iman; Allah dan rasulNya lebih dia cintai dari pada yang lainnya, mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia benci dilemparkan kedalam neraka. (HR. Bukhori dan Muslim).
6.Sikap menerima yang meniadakan penolakan
Allah SWT memberitakan tentang sebuah kaum yang Dia timpakan azab kepada mereka karena mereka menolak untuk menerima kaliamat syahadah ini:
Artinya:
Maka Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya Demikianlah kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?" (QS: As-Shoffat:33-36)
Dan dalam sebuah hadis Rasulallah bersabda:
مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا، فكان منها قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير، وكان فيها أجادب أمسكت الماء فنفع الله به الناس، فشربو وسقوا وزرعوا، وأصاب منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماء ولا تنبت كلأ، فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم، ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به.
Artinya:
Perumpamaan ilmu dan hidayah yang Allah mengutus Aku dengannya adalah bagaikan hujan deras yang jatuh ke tanah. Di antara tanah itu ada yang menyerap air sehingga menumbuhkan pepohonan dan rerumputan yang banyak. Dan di antara tanah itu ada yang gersang,menahan air sehingga Allah memberikan kebaikan dengan air itu kepada manusia, maka minumlah mereka, menyiram dan menanam. Dan ada (air) yang jatuh pada jenis (tanah) yang lain, tanah itu adalah Qii’aan, tidak menahan air dan tidak juga bisa menumbuhkan pepohonan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan mendapatkan manfa’at dari apa yang aku diutus dengannya, lalu dia mengetahui dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang bodoh dan tidak menerima hidayah yang Allah telah mengutusku dengannya.
7.Sikap manut yang meniadakan sikap menolak, meninggalkan dan tidak melaksanakan
Allah SWT berfirman:
Artinya:
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS: Luqman: 22).
Artinya:
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS: An-Nuur: 51-52).
Allah SWT berfirman:
Artinya:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS: Al-Baqoroh:284).
Dan diriwayatkan dari rasulallah, ketika turun ayat ini kepadanya, para sahabatnya merasa berat, lalu mereka mendatangi Rasul SAW dan membungkuk seraya berkata, “Wahai rasulallah! Kami telah dibebani dengan amalan-amalan yang tidak bisa kami kerjakan; Sholat, Jihad, Puasa dan Sedekah. Dan ayat ini telah turun juga kepadamu. Kami tidak sanggup untuk melaksanakannya.” Kemudian Rasulallah berkata, “Apakah kalian ingin berkata sebagaimana apa yang elah dikatakan oleh ahli dua kitab sebelum kalian “Kami dengar dan Kami langgar”? Akan tetapi katakanlah, “Kami dengar dan Kami taati, ampunanMu ya Tuhan kami dan hanya kepadaMu lah tempatkembali.
Ketika para sahabat rasulallah menerima dan menyebutkan kata-kata itu dengan lidah mereka, Allah turunkan setelah itu ayat selanjutnya:
Artinya:
Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. (QS: Al-Baqoroh: 285).
Ketika para sahabat telah melaksanakan kandungan ayat tersebut kemudian Allah menghapus hukum ayat tersebut, lalu menurunkan ayat:
Artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (QS: Al-Baqoroh:286).
Rasulallah berkata, “Ya.”
Artinya:
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. (QS: Al-Baqoroh: 286).
Rasulallah berkata, “Ya.”
Artinya:
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. (QS: Al-Baqoroh: 286).
Rasulallah berkata, “Ya.”
Artinya:
beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS: Al-Baqoroh: 286).
Rasulallah berkata, “Ya.” Dan di dalam riwayat Ibnu Abbas rasul berkata, “Telah Aku laksanakan.”
Jika tauhid yang murni telah tertanam di dalam kehidupan pribadi ataupun dalam kehidupan berjamaah maka tauhid tersebut akan membuahkan dampak yang baik bagi kehidupannya. Di antara buah tauhid tersebut adalah:
1. Tauhid membebaskan jiwa dari penyembahan dan tunduk pada selain Allah.
Semua yang ada di dunia ini adalah makhluq Allah SWT. Mereka tidak bisa menciptakan sesuatu yang belum. Tidak bisa memberikan kemanfaatan pada dirinya dan tidak pula bisa memberikan mudhorat. Tidak bisa menghidupkan yang mati, tidak bisa mematikan yang hidup.
Tauhid pada dasarnya memberikan kebeasan bagi manusia dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah. Membebaskan aqal dari bentuk-bentuk khurofat dan keragu-raguan. Membebaskan hati dari ketundukan dan penyerahan diri kepada makhluq. Dan membebaskan kehidupan dari dominasi tuhan-tuhan tandingan yang mereka ambil dari makhluq Allah dan membebaskan dari dominasi dan pengaruh dukun dan orang-orang yang ingkar dari penyembahan kepada Allah.
Karena alas an inilah para pemimpin kaum musyrikin dan orang-orang jahiliyah dahulu menentang dakwah para rasul secara umum dan dakwah nabi Muhammad secara khusus. Karena mereka memahami bahwa makna kalimat ‘La Ilaha Illallaah’ adalah merupakan deklarasi secara umum terhadap pembebasan manusia dari ibadah kepada selain Allah.
2. Tauhid membentuk pribadi manusia yang tangguh.
Tauhid membentuk kepribadian yang tangguh, yang memiliki tujuan yang khusus dalam kehidupannya dan memiliki tujuan yang satu. Dia tidak memiliki tuhan kecuali tuhan yang satu. Menyembah kepadaNya baik dalam keadaan terlihat maupun terang-terangan. Dan selalu berdoa kepadanya baik dalam keadaan senang maupun susah. Berbeda dengan orang yang mensekutukan Allah (Musyrik), hati mereka terbagi-bagi pada beberapa tuhan dan sesembahan-sesembahan. Terkadang menyeru dan meminta kepada yang hidup dan terkadang meminta kepada yang mati. Dalam hal ini, nabi Yusuf Alaihis salam berkata: Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa?(QS. Yusuf: 39) Maka orang-orang beriman hanya menyembah tuhan yang satu. Sehingga dengan begitu dia tahu apa saja yang diredoi oleh tuhannya dan apa saja yang dibenci olehNya. Ketika dia melakukan sesuatu yang diredoi oleh Allah maka tenanglah hatinya. Sedangkan orang-orang yang menyekutukan Allah, mereka menyembah banyak tuhan. Yang satu menyeru dia untuk menempuh jalan ke kanan dan yang lain menyeru dia untuk menempuh jalan ke kiri. Hatinya terpecah antara tuhan-tuhan tersebut dan tidak ada kepastian.
3. Tauhid merupakan sumber keamanan bagi manusia. Tauhid merupakan sumber keamanan bagi manusia, karena tauhid memenuhi hati dengan rasa aman dan tenang. Tidak ada yang ditakuti selain Allah. Tauhid telah menutup pintu-pintu rasa takut terhadap kekurangan rizki dan kematian. Menutup pintu-pintu rasa takut terhadap manusia, jin, kematian dan yang lainnya yang menjadi ketakutan manusia. Orang beriman memiliki tauhid yang kuat tidak akan takut kepada apapun selain Allah. Karena inilah dia akan merasa aman walaupun diancam oleh manusia dengan suatu yang membahayakan dirinya. Merasa tenang jika diusik oleh orang lain. Inilah sifat orang beriman yang digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. (QS: Al An’am: 82). Keamanan yang terbentuk merupakan keamanan yang tumbuh dari dalam jiwa bukan keamanan yang terbentuk karena penjagaan satpam ataupun polisi. Ini baru merupakan keamanan yang ditimbulkan oleh tauhid di dunia, adapun keamanan di akhirat akan lebih besar dan lebih kekal. Keamanan ini tidak didapatkan kecuali dengan ikhlas beribadah hanya untuk Allah dan tidak mencampur-adukkan ketauhidan kepadaNya dengan perbuatan syirik. Karena syirik merupakan kezholiman yang sangat besar.
4. Tauhid merupakan sumber kekuatan jiwa. Tauhid memberikan kekuatan kepada jiwa, karena tauhid mengisi jiwa dengan sifat roja’ (harapan kepada Allah), sifat tsiqoh (percaya penuh kepada Allah), sifat tawakkal, ridho kepada ketetapan Allah, sifat tidak tergantung kepada makhluk. Dia teguh seperti sebuah gunung. Jika ditimpa oleh musibah maka dia meminta kepada Allah untuk menghilangkan musibah itu darinya, bukan meminta kepada benda-benda mati. Syi’ar dalam hidupnya adalah sabda rasullallah SAW: Jika kamu meminta, maka pintalah kepada Allah. Dan jika kamu meminta pertolongan maka pintalah pertolongan kepada Allah. (HR. At Tirmizi) Dan firman Allah SWT:
Dan Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS: Al An’am: 17).
5. Tauhid merupakan dasar persaudaraan, persamaan dan keadilan. Tauhid merupakan dasar persaudaraan, persamaan dan keadilan, karena karena tauhid kepada Allah tidak mengizinkan bagi pengikutnya untuk menjadikan sebagian yang lainnya sebagai yang dipertuhankan selain Allah. Manusia di sisi Allah adalah sama. Berasal dari asal yang satu yaitu Adam. Sebagaimana Allah berfirman: Hai manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu. (QS: An Nisa’: 1).
Manusia tidak dilebihkan dari yang satu dengan yang lainnya kecuali karena takwanya. Rasulallah SAW bersabda: Hai manusia, sesungguhnya tuhan kalian adalah tuhan yang satu, dan bapak kalian adalah satu. Setiap kalian berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Dan tidak ada kelebihan antara orang arab dari orang yang bukan arab, tidak juga ada kelebihan bagi orang yang bukan arab dari orang arab. Tidak ada kelebihan antara yang berkulit merah dengan yang berkulit putih, tidak juga ada kelebihan antara orang yang berkulit putih dari orang yang berkulit merah kecuali karena takwanya. (HR. Bukhori dan Muslim).
6. Tauhid merupakan sebab dibukakannya pintu-pintu rizki dan kebaikan bagi manusia. Dengan tauhid Allah akan membukakan bagi manusia pintu-pintu rizki dan kebaikan dari langit dan bumi. Tauhid juga merupakan sebab datangnya kemuliaan dan pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman dari ancaman musuh-musuh mereka walaupun umat islam berjumlah sedikit. Allah SWT berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. Al A’raaf:96).